Nadya Saib & Yasmin Indriasti, Co-CEOs of Wangsa Jelita

Woman's Career
beauty-oils-olio

Beauty Oils – Olio, salah satu produk best selling dari Wangsa Jelita

Kata ‘natural’ dalam sebuah produk dapat memberikan kesan bahwa produk tersebut dibuat menggunakan bahan-bahan alam, tapi ternyata nggak juga loh! Berawal dari menemukan sabun ‘natural’ apel yang tidak mengandung apel beredar di pasaran, Nadya & teman-temannya membuat sebuah usaha yang menyediakan produk natural bernama Wangsa Jelita. Melalui percobaan yang panjang, mereka akhirnya berhasil menghasilkan produk yang sekarang bisa kamu beli langsung di website Wangsa Jelita.

Awalnya, setiap produk Wangsa Jelita diproduksi dengan cara homemade. Seiring dengan perkembangan bisnisnya, Nadya dibantu oleh Yasmin Indriasti, teman dari SMA yang bergabung dengan Wangsa Jelita di tahun 2012, mulai mengembangkan Wangsa Jelita dengan bekerja sama dengan beberapa pabrik untuk menghasilkan produk dengan kapasitas yang lebih besar. Saat ini Nadya dan Yasmin bertanggung jawab sebagai Co-CEO dari Wangsa Jelita.

Kehadiran Wangsa Jelita di Indonesia sangat membantu kelompok petani juga loh. Pengen tau cerita lengkap Wangsa Jelita dari awal, momen memorable mereka, dan saran mereka untuk kamu yang mau memasuki dunia entrepreneurship? The It Girl beruntung sekali bisa membagikan cerita inspiring dari Co-CEO Wangsa Jelita.

 

yasmin_nadya

Kiri: Yasmin Indriasti. Kanan: Nadya Saib.

Name: Nadya Fadila Said

Age: 29

Current title: Founder & Co-CEO Wangsa Jelita

Location: Jakarta – Bekasi

Education: Apoteker, ITB

 

Name: Yasmin Indriasti

Age: 30

Current title: Co-CEO Wangsa Jelita

Location: Jakarta

Education: S1 Teknik Industri ITB, S2 Manajemen Pemasaran UI

 

Apa sih pekerjaan pertama kalian setelah lulus kuliah?

Nadya: Aku nggak punya cerita banyak soal ini, karena setelah kuliah aku langsung ngurusin Wangsa Jelita. Aku pikir Yasmin yang bisa lebih banyak cerita.

Yasmin: Aku sempat kerja di kantor konsultan waktu mengerjakan TA (tugas akhir). Waktu itu aku mengerjakan sebuah proyek di Kementerian Keuangan (Direktorat Jenderal Kekayaan Negara) selama beberapa bulan. Lalu, selesai kuliah, aku kerja di salah satu MNC di bidang F&B, selama beberapa bulan. Setelah itu aku kerja di perusahaan supplier untuk migas, sebagai marketing analyst. Ketika itu tanggung jawabku banyak dalam hal pengolahan data. Misalnya, memprediksi potensi pemasaran untuk tahun ini, kira-kira kita bisa menjual berapa, dan potential sales untuk tahun-tahun selanjutnya. Jadi, meskipun marketing, kerjaanku benar-benar di depan laptop banget.

 

Bagaimana sih munculnya ide Wangsa Jelita?

Nadya: Aku pingin punya usaha sendiri sejak SMA. Dan aku pilih jurusan Farmasi ketika kuliah karena pingin punya usaha di bidang kecantikan. Setelah lulus, aku kontak dua temanku yang juga sama-sama satu jurusan di Farmasi. Aku ngajak mereka untuk buat usaha bareng, dan mereka setuju. Trus kami cari-cari ide, apa yang kira-kira ingin kami tawarkan dan akan beda dengan produk-produk yang sudah ada di pasaran.

Waktu itu kata “natural” atau “organik” belum terlalu ngetren. Untungnya kami nggak sengaja menemukan brand dengan produk yang dilabeli tulisan “Sabun Natural Apel,” tapi pas dicek bahan-bahannya, itu nggak ada kandungan apelnya sama sekali. Jadi singkatnya, “sabun natural apel” tanpa apel. Akhirnya jadi pertanyaan: “kok bisa ada klaim natural tapi tidak memenuhi kata itu?” Ternyata, kami baru tau, kalau natural itu nggak ada regulasinya. Orang bisa aja bilang natural apa lah, dan itu misleading banget.

Waktu itu kami juga bikin survey, dan dari ratusan responden, kesimpulan yang kami dapat adalah mayoritas orang ketika dengar “produk natural” langsung menganggap produk tersebut adalah produk yang sehat, dan pilihan yang lebih baik. Bahkan tanpa mengecek sebenernya apa bahan-bahan di dalamnya. Nah, itu kan nggak tepat.

Tapi lalu kami ketemu juga dengan orang yang bilang, “yang namanya natural itu ngga ada bahan kimianya sama sekali.” Nah, itu sebenernya juga ngga benar, karena secara kimia, air itu chemical, jadi kalo kita mau bilang hidup tanpa bahan kimia, itu jelas non-sense.

Jadi misi awal Wangsa Jelita itu kami ingin menyampaikan, bagaimana mendefinisikan “produk natural” secara tepat. Kami di Wangsa Jelita berpendapat bahwa bahan kimia itu tidak bisa dihindari. Tapi, memang harus lebih teliti dalam pemilihannya, mana sih chemical yang mau kita pakai, mana yang nggak. Dan dasar dalam menentukannya itu yang customer harusnya lebih diedukasi.

Singkatnya, dalam Wangsa Jelita, kami selalu menyebut formulasi kami sebagai 100% non-harmful chemicals. Artinya, chemical  yang kami gunakan adalah yang memiliki manfaat untuk kulit. Dan tentu saja chemical yang punya potensi berbahaya dieliminasi dari formulasi kami. Dan dari situ lah dimulai perjalanan Wangsa Jelita di tahun 2008.

Awalnya kami bikin sabun, ada sabun apel, zaitun, dan kunyit. Tugas akhirku kebetulan membuat gel untuk melawan bakteri penyebab jerawat dengan menggunakan ekstrak teh hijau. Dari situ kami jadi bikin juga sabun teh hijau.

Setahun kemudian kami nggak sengaja ketemu dengan kelompok petani mawar, dan tahu bahwa mereka punya hubungan yang menarik dengan bandar. Di satu sisi mereka terbantu, tapi di sisi lain mereka terintimidasi. Karena bandar ini menjadi satu-satunya channel untuk koneksi ke pasar, mereka punya power untuk menentukan berapa harga mawar itu.

Mawar itu dibagi dalam tiga grup. Ada grade A, grade B dan grade C. Grade A itu yang panjang tangkainya di atas 60 cm, grade B itu yang sedang, grade C itu yang panjang tangkainya paling pendek. Nah, si grade C ini harganya murah banget. Nggak profitable buat kelompok petaninya. Yang kami lakukan adalah dengan membeli grade C dengan harga yang sama dengan grade A, untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam formulasi produk perawatan Wangsa Jelita.

Dari situ kami belajar, ternyata bisnis nggak cuma sekedar cari profit tapi juga bisa empowering komunitas. Mereka punya sesuatu yang bisa kita manfaatin. Dan kita punya sesuatu yang bisa leverage apa yang mereka punya. Sejak itu, Wangsa Jelita jadi social enterprise dan kami berusaha mereplikasi apa yang kami lakukan dengan kelompok petani mawar dengan komunitas lokal lainnya.

Apa artinya Wangsa Jelita?

Dari bahasa Sansekerta, “Wangsa” itu artinya “dinasti,” “Jelita” itu “cantik.”

serene-series-gogirl-x-wangsa-jelita

SERENE series, produk kolaborasi Wangsa Jelita dengan GoGirl!

 

Bagaimana sih cara awalnya Wangsa Jelita terbentuk dari awal. Apa sih langkah awal yang dilakukan?

Nadya: Oktober 2008 aku ngobrol sama temen-temenku, dan kami semua sepakat untuk memulai Wangsa Jelita. Waktu itu namanya bukan Wangsa Jelita sih, tapi Sapo, hahaha. Kurang kreatif sebetulnya, karena kami mengambil kata “sapo” ini dari nama proses pembuatan sabun, “saponifikasi.”

Jadi kami bertiga patungan lima ratus ribu per orang, kemudian beli alat seadanya. Waktu itu kami cukup terbantu karena masih kuliah apoteker di ITB, jadi bisa pinjam alat-alat lab dan dapat saran dari dosen-dosen juga. Lalu kami mulai deh bikin sabun. Beberapa kali nggak pede sama hasilnya. Terlalu lembek lah, busanya nggak ada sama sekali lah, dan seterusnya. Tapi kami terus coba bikin, sampai akhirnya sudah mulai pede dan dibagikan ke orang-orang terdekat sampai akhirnya di tahun 2009 ada yang mau beli sabun kami karena cocok banget dengan kulitnya. Mulai deh berjualan. Bar soap yang kami jual waktu itu bentuknya petak-petak karena alatnya masih sederhana dan masih kami potong-potong manual sendiri. Ketika itu kami jual lima belas ribu per batang dan dalam sebulan kami produksi sekitar 20 batang.

Lalu, kami dengar tentang PMW (Program Mahasiswa Wirausaha) yang memberikan pendanaan untuk mahasiswa dengan ide bisnis yang dinilai menarik dan berpotensial untuk berkembang. Wangsa Jelita ikut program itu dan berhasil mendapatkan dana. Dari dana tadi, yang tadinya produksi 20 batang per bulan berkembang jadi 200 batang. Lalu kami terus menabung modal melalui jualan dan lumayan banyak juga ikut lomba-lomba yang serupa. Ada yang menang dan dapat dana lagi, ada juga yang kalah tapi dapat network.

Tahun 2011, Wangsa Jelita mulai sering diliput di media karena cerita kami bekerjasama dengan petani mawar. Dari situ kami mulai dapat banyak order yang banyak di antaranya datang dari corporate yang ingin membeli produk Wangsa Jelita sebagai corporate gift untuk klien-klien mereka.

Di tahun 2012 akhir Yasmin bergabung dan mengevaluasi kondisi perusahaan sampai akhirnya kami mengambil keputusan untuk lebih fokus ke retail daripada corporate sales.

Yasmin: Corporate yang jadi klien kami biasanya tertarik karena Wangsa Jelita punya cerita sosial yang bagus. Perusahaan ingin terafiliasi dengan image Wangsa Jelita yang bekerja sama dengan petani mawar. Jadi, biasanya mereka pesan souvenir untuk acara-acara mereka.

Sayangnya, corporate order itu seasonal banget. Ketika ada order memang besar pendapatannya tapi sayangnya nggak konstan selalu ada. Pegawai juga nggak selalu ada kerjaan jadinya, haha. Ditambah lagi, variasi produk kami jadi nggak terlalu terdorong untuk berkembang.

Nah, ketika kami mau shifting ke retail, ada beberapa hal yang menjadi perhatian. Misalnya, waktu itu kami lihat kalau sabun batang sudah nggak terlalu populer untuk sebagian masyarakat, jadi kami harus mengembangkan produk-produk lain seperti lotion, scrub, dan beauty oil supaya tetap bisa memenuhi kebutuhan customer. Selain itu, seperti yang Nadya bilang tadi, latar belakang pembentukan Wangsa Jelita adalah karena para founders ingin memperkenalkan konsep natural yang tepat kepada masyarakat umum. Akhirnya, pada tahun 2013, meskipun penjualan kami masih lebih banyak datang dari corporate, tapi kita mantap untuk mulai persiapan pindah fokus melayani retail. Tahun 2014 baru betul-betul kami mulai. Website yang tadinya hanya sekedar menampilkan produk dan fitur yang tersedia hanya untuk menulis pesan, kami perbaiki menjadi bentuk e-commerce site.

 

Apa aja sih tanggung jawab kalian sebagai Co-CEO Wangsa Jelita?

Nadya: Tanggung jawabku sendiri yang utama ada dua: product development dan community engagement. Marketing aku kerjakan bersama Yasmin. Selain marketing bareng aku, Yasmin juga bertanggung jawab untuk finance, operasional, HR, dan, basically, semua yang di luar tanggung jawabku sih, hahaha, ternyata banyak.

Ada satu lagi di tim manajemen kami, yaitu Heliana Lubis (Ina). Dia bertanggung jawab di bagian desain, konten social media, dan branding. Selain 3 orang di manajemen, ada 5 orang staf lagi yang membantu.

talents-go-massage-salah-satu-community-partner-wangsa-jelita

Nadya dan Yasmin bersama talents dari Go-Massage, salah satu community partner dari Wangsa Jelita

 

Pengalaman apa yang paling memorable dalam perjalanan karir Nadya & Yasmin?

Yasmin: Tahun 2013, kami sempat punya distributor di Singapura. Waktu itu kantor masih di Bandung dan ada staf 2 orang. Jadi ada aku, Nadya, satu staf yang membantu proses produksi sabun (waktu itu masih homemade), dan satu lagi staff yang mengemas produk. Seperti biasa, kami bekerja agak mepet dengan deadline, hahaha. Pas di hari H-1 barang mau diserahkan, ternyata masih banyak yang belum beres, padahal sudah malam dan staf kami masih muda semua, jadi juga nggak tega buat minta mereka kerja sampai larut malam. Akhirnya, yaudah deh, aku dan Nadya saja berdua yang mengerjakan. Lalu di tengah-tengah keribetan mengerjakan itu, tiba-tiba pipa wastafel di kantor mendadak bocor dan airnya menyembur kemana-mana. Ngenes banget sih. Tapi kalo diingat-ingat, aku jadi bersyukur banget sama kondisi Wangsa Jelita sekarang, dan sadar kalau usaha ini dimulai benar-benar dari susah banget, hehe.

Nadya: Kalau buat aku, kejadian yang paling memorable juga masih berhubungan dengan partner yang di Singapore ini, Cuma momen yang berbeda. Waktu itu aku sempat ada acara di luar negeri. Persis minggu depan setelah aku balik, Yasmin ada jadwal mengikuti acara di Korea untuk mewakili Wangsa Jelita. Dan di antara waktu tersebut, ada barang yang harus dikirim ke distributor di Singapore. Masalahnya adalah, saat dicek, karena persiapan kami dadakan, shipping fee nya jadi mahal banget, bahkan lebih mahal daripada kalau ada orang yang bolak balik ke Singapore untuk mengantar. Karena ngirit, yaudah deh, kami putuskan untuk hand-delivery aja ke Singapore.Yang bikin pusing, waktu itu Yasmin nggak bisa ngantar karena paspornya sudah dikasih ke panitia untuk acara yang di Korea. Sementara aku satu-satunya yang bisa ngantar, pas balik ke Indonesia itu, entah gimana mataku sakit kena virus jadi nggak berhenti mengeluarkan cairan. Akhirnya aku harus menjadi kurir pengantar dua koper gede berisi sabun, dengan mata belekan non-stop, nggak banget deh pokoknya. Aku ingat banget aku berangkat first flight in the morning ke Singapore, ngasih sabun, 3 jam kemudian balik lagi ke Jakarta, tentunya dengan kacamata hitam yang nggak pernah dicopot, hahaha. Malu banget.

serene-beauty-package

SERENE Beauty Package, paket dari SERENE series, kolaborasi antara Wangsa Jelita dengan GoGirl!, diluncurkan di tahun 2016.

Apakah ada orang yang menjadi mentor untuk membimbing Nadya & Yasmin?

Nadya: Aku belajar banyak dari baca-baca dan nonton video yang berkaitan dengan apa yang aku kerjakan. Dan aku juga banyak belajar dari Yasmin. Aku belajar banyak dari perspektif Yasmin, terutama karena dia seorang ibu dan punya tanggung jawab yang kupikir relatif lebih besar daripada aku. Selain itu, aku juga belajar banyak dari bapakku. Ada value dari bapakku yang aku pegang teguh sampai sekarang. Yang paling nempel di aku, dia (Bapak) mengajarkan kalau semua keputusan itu harus reasonable, jelas alasannya, dan bisa dipertanggungjawabkan. Dari ibuku pun aku juga banyak belajar. Ibuku itu kalau mengerjakan apapun pasti niat banget. Jadi, untuk semangat dan keniatan aku banyak mencontoh Ibuku. Dari keponakan-keponakanku juga aku belajar tentang curiosity.

Yasmin: Aku tidak punya satu mentor khusus yang rutin ketemu setiap bulan. Untungnya Nadya punya pergaulan yang luas, kami jadi punya banyak kesempatan untuk sering bertemu orang-orang yang bisa diajak diskusi. Tiap kali ketemu orang, pasti selalu ada hal yang bisa dipelajari. Selain itu kami juga terafiliasi dengan GEPI, yang menjembatani Wangsa Jelita dengan angel investor kami. Kami juga belajar cukup banyak dari orang-orang yang ada di GEPI.

 

Apa tantangan terbesar dan rewards dari memiliki usaha sendiri?

Nadya: People management. Menurutku, ketika aku merasa punya value atau pendapat, aku akan cukup kuat mempertahankan itu, cukup tidak tergoyahkan. Di satu sisi, aku percaya itu bagus, tapi di sisi lain, kadang-kadang aku jadi sulit untuk melihat perspektif orang lain seperti apa. Kayaknya aku masih perlu banyak belajar bagaimana caranya tetap teguh pendirian terhadap value yang aku miliki, tapi tetap respectful sama aspirasi atau value orang lain, hehe. Jadi, people management adalah yang paling susah sejauh ini buatku.

Yang rewarding adalah bisa balancing waktu, bisa sesuka-suka walaupun sebenarnya nggak suka-suka amat, hahaha. Tapi jauh lebih fleksibel dan kami bisa menciptakan culture yang kami inginkan. Misalnya, di Wangsa Jelita, kami menekankan bagaimana caranya keluarga itu menjadi prioritas, tapi tetap harus balance sama pekerjaan. Aku dan Yasmin berpendapat kalau kami harus bisa menjadikan Wangsa Jelita enabler buat siapa pun di tim untuk mempunyai dua roles or even more. Selain itu, I think knowing that people enjoy kerja di Wangsa Jelita itu menyenangkan sih. Di Wangsa Jelita, Yasmin suka bikin RIPE (evaluasi buat pegawai) setiap beberapa bulan. Singkatnya mereka dikasih pertanyaan assessment di mana mereka juga bisa memberikan pendapat dan saran. Mengetahui bahwa orang-orang senang bekerja bareng kami, sekaligus mampu secara terbuka memberikan masukan, itu, buatku, sangat menyenangkan.

Yasmin: Banyak sih sebenarnya challenge-nya, tapi kayaknya yang biasanya membuatku berpikir banyak adalah ketika terjadi benturan antara idealisme sama commercialism. Lalu, buatku pribadi, mengatur keseimbangan antara usaha/karir dengan keluarga juga merupakan constant challenge. Karena aku sudah punya anak, jadi ada hal-hal yang aku nggak bisa kerjakan karena waktuku terbatas banget dan aku juga nggak bisa keluar malam. Padahal sebenarnya kadang-kadang ada event atau hal-hal yang harus dikerjakan malam hari. Untungnya, Nadya selalu bisa cover bagian-bagian itu.

Sebetulnya, motivasi pertamaku berwirausaha karena melihat teman kantorku dulu. Waktu itu ada teman kantorku yang punya anak (waktu itu aku belum married dan punya anak) dan tinggal di Bogor. Setiap hari dia baru sampai rumah jam 8 malam dan harus berangkat lagi jam 5 pagi. Lalu aku kepikiran nanti kalau aku punya anak sepertinya aku nggak bisa kalau harus seperti itu. Jadi aku ingin berwirausaha supaya waktu dan tempat kerjaku bisa lebih fleksibel dan aku menganggap itu sebagai salah satu rewards bekerja di Wangsa Jelita. Motivasi kedua, setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan yang cukup besar, aku merasa akan lebih senang kalau aku bekerja di perusahaan yang lebih kecil tapi hasil pekerjaanku berdampak besar untuk perusahaan. Di Wangsa Jelita aku bisa merasakan senangnya ketika ide-ide yang aku pikirkan terwujud hasilnya.

rose-variants

Rose Series, beberapa produk yang menggunakan ekstrak air mawar yang diolah dari hasil tani kelompok petani di Lembang

 

Seperti apa sih rata-rata hari kerja Nadya & Yasmin sehari-hari?

Nadya: Wah, sekarang aku lagi ada kerjaan tambahan karena baru adopsi kucing, haha. Jadi kaya hari ini, aku bangun tidur, trus sholat, ngaji, dan tidur-tiduran lagi sampai jam 6. Setelah itu baru mulai ngurusin kucing. Kebetulan kucing ini buta, jadi harus disuapin. Setengah jam ngurusin kucing lalu aku mandi dan ke kantor dan kerja.. Di kantor, either ngurusin marketingproduct development, atau community development plan.

Trus pulang sore, setelah itu mandi, ngurusin kucing lagi, hahaha. Sholat, makan. Lalu aku biasanya ngobrol sama ibuku. Baru deh siap-siap tidur. Atau kadang-kadang nonton Youtube dulu, baru tidur.

Yasmin: Aku dari pagi sudah ngurusin anak. Karena dia baru mulai sekolah dua bulan ini, jadi pagi-pagi menyiapkan keperluan sekolahnya, trus mengantar dia ke sekolah. Biasanya jam setengah delapan aku sudah sampai kantor karena sekolahnya dekat banget. Lalu ngerjain hal-hal yang harus dikerjain di kantor, terutama hal-hal yang memang memerlukan aku untuk ada di kantor. Misalnya harus meeting sama orang atau ngobrol sama tim. Kemudian menjelang siang aku jemput anakku dan bawa dia ke kantor. Setelah dia tidur siang baru aku kerja lagi. Dia punya tempat tidur sendiri di kantor loh, hehe. Begitu dia bangun, aku siap-siap dan pulang. Jadi aku pulang lebih dulu daripada Nadya. Lalu menyiapkan makan malam, mandi, dan seterusnya.

 

Siapa sih role model Nadya & Yasmin?

Nadya: Aku lagi suka Nouman Ali Khan, haha. Dia punya sekolah namanya Bayyinah di Texas. Yang diajarkan di Bayyinah adalah bagaimana caranya supaya ketika kita baca Al-Quran, kita paham artinya. Dan paham itu artinya nggak cuma sekedar paham seperti kita baca translation, tapi benar-benar paham dan bisa make sense out of it, dan mengaplikasikannya.

Yang menurutku menarik adalah, pertama, dia itu ustadh, jadi punya pemahaman yang baik tentang agama, tapi di saat yang sama dia juga running business. Bayyinah itu dijalankan dalam bentuk badan usaha for profit, and I think they’re doing well.

Sebelum aku tahu soal Nouman Ali Khan, pemahamanku itu, agama dan hidup adalah dua hal yang berbeda dan terpisah, artinya aku cukup melakukan rutinitas yang harus dilakukan dan tidak melakukan yang tidak boleh dilakukan menurut agama, urusan hidupku ya suka-suka aku. Soal aku berinteraksi dengan orang, soal bagaimana aku menjalankan pekerjaanku, itu hal yang berbeda. Yang satu adalah urusanku dengan Tuhan dan yang satu lagi urusanku dengan orang. Dari lectures-nya Nouman ini aku paham kalau sebenarnya the way we understand about our religion justru tercermin ketika kita berinteraksi dengan orang-orang. Semakin baik pemahaman agama kita, seharusnya semakin baik juga cara kita berpikir dan terutama bersikap.

Kedua, yang menarik untukku adalah knowing bahwa dia (Nouman Ali Khan) tidak membuat rasa ingin sukses menjadi hal yang “duniawi” dengan konotasi yang negatif. Justru aku belajar kalau agama mengajarkan kita untuk berharap akan kesuksesan di dunia akhirat. Menurutku, dia mencontohkan balance antara dunia dan akhirat, dan aku sangat setuju dengan itu.

Yasmin: Banyak sih. Misalnya, aku terinspirasi oleh mamaku dalam satu hal dan oleh bapakku akan hal yang lain.

Kemarin juga aku baru ketemu sama ibu-ibu yang memiliki usaha dan aku senang karena ternyata dilema menjadi ibu dan menjalani usaha yang aku punya, juga dialami oleh mereka. Aku merasa nggak sendiri di dunia ini, hehe. Dan ternyata banyak juga di antara mereka yang menjalankan bisnisnya sambil mengurus anaknya. Menurutku itu keren banget sih. Dan aku berusaha untuk bisa menjadi seperti itu, gimana supaya menjalankan bisnis dengan baik, dan juga mengurus anak dengan baik. Karena aku merasa sekarang masih banyak dari aku sendiri yang harus diperbaiki.

Aku nggak bisa jawab spesifik satu orang, tapi menurutku para ibu-ibu yang mengasimilasi kehidupan anaknya dengan kehidupan karirnya itu inspiring. Misalnya, salah satu temanku dan Nadya, namanya Zhafira Loebis. Dulu dia lawyer dan ketika dia hamil, ada satu dan lain hal yang terjadi, dan dia memutuskan untuk resign, lalu bersama suaminya, yang resign juga, mereka memulai usaha penyewaan peralatan bayi. Sekarang dia nggak punya nanny  lagi, jadi dia dan suaminya bergantian untuk jagain anaknya. Dan sembari itu, usaha mereka juga doing well.

go-massage

Rejuvenating series, produk Wangsa Jelita yang bisa didapat eksklusif melalui layanan Go-Massage.

 

Saran apa yang bisa kalian berikan pada perempuan yang ingin sukses dalam entrepreneurship? Khususnya di industri kecantikan.

Nadya: Kalau menurutku, yang pertama harus dicari itu adalah teman, hahaha. Di sini maksudku teman sesama pengusaha ya. Aku ingat banget waktu tahun-tahun pertama itu rasanya berat. Berat dalam hal finansial dan perubahan gaya hidup, terutama setelah baru lulus. Waktu masih kuliah kan kita dapat support dari “yayasan orang tua” alias uang jajan bulanan, hehehe. Tapi begitu lulus, harus tanggung jawab sama hidup sendiri. Plus, ketika itu, bisnisnya juga belum banyak menghasilkan, bahkan nothing at all. Jadi, kupikir, akan memudahkan kalau kita punya teman supaya tau, kalau kita ngalamin itu nggak sendirian.

Partner bisnis juga nggak kalah penting, karena ada hal-hal yang nggak bisa kita ceritain ke teman lain soal bisnis kita sendiri. Jadi, buat aku yang suka brainstorming, punya partner bisnis itu essential.

Lalu, penting banget untuk paham apa yang mau kita tawarkan. Salah satu kesalahanku di awal menjalankan bisnis adalah aku nggak make sure apakah yang aku yakini baik itu bisa diterima oleh orang lain. Misalnya, aku keukeuh banget nih kalau sabun padat itu paling bagus, tapi kan nggak semua orang bisa menerima itu. Ada orang yang nggak bisa kalo nggak pakai sabun cair.

Kita juga harus lebih spesifik dalam mendefinisikan siapa sih yang mau kita serve. Aku ingat salah satu alasan kenapa jenis produk yang dulu kita pilih adalah sabun, dengan alasan, menurut kita ketika itu, semua orang kan pakai sabun. Jadi mikirnya akan gampang dijual, hahaha. Padahal kan nggak sesederhana itu. Jangan pikir hanya karena kita bikin produk yang umum, semua orang bisa menerima. Understanding the perspective of the people whom we want to serve is very important.

Yasmin: Soal partner bisnis dan teman yang punya pemahaman dan pengalaman sama, aku setuju banget dengan Nadya. Terutama kalau udah berkeluarga, soalnya keputusan berwirausaha itu pasti sedikit banyak mempengaruhi orang-orang di sekitar kita, dan biasanya orang berwirausaha itu, paling enggak awalnya, sempat mengalami miskin dan susah dulu.

Dan betul kata Nadya, punya partner itu sangat membantu, apalagi setelah aku punya anak. Kayaknya kalo nggak ada Nadya yang mau mengerti situasiku, pasti akan susah banget.

Tapi cari partner itu memang nggak gampang sih. Aku beruntung karena kebetulan mendapatkan partner yang cocok karena kami sudah berteman dekat dari dulu. Kupikir juga banyak hal yang perlu dipikirkan ketika kita memilih partner. Jangan semata-mata karena kita sama-sama mau bikin bisnis yang sama lalu kita partneran. Karena aku sering dengar cerita tentang partnership yang awalnya mereka berteman, kemudian terjadi hal yang nggak enak dalam bisnis, dan akhirnya malah nggak berteman lagi. Serem banget! Aku pikir, salah satu hal yang membuat partnershipku dan Nadya berhasil adalah karena kami punya value dan visi yang sama.